JURUS DAN APLIKASI DALAM SILAT

Banyak orang beranggapan bahwa jurus dilatih supaya bisa melakukan aplikasi. Banyak orang belajar silat dengan berlatih jurus semata-mata untuk bisa melakukan aplikasi, sehingga kita sering mendengar pernyataan : “aplikasi jurus nya adalah seperti ini”. Atau pertanyaan : “bagaimana aplikasi dari jurus itu?”. Karena hal itu sudah sangat umum, maka jadilah itu suatu “kebenaran” atau paling tidak “dianggap sebuah kebenaran”.

Sudah sangat umum dan kerap terjadi bahwa belajar silat itu indetik dngan berlatih jurus dan aplikasi nya. Sehingga selalu lah kita mendengar dan melihat proses pembelajaran silat yang menjemukan. Konsep-konsep yang tampak nya benar padahal menyesatkan. “Jurus ini adalah aplikasi nya begini, serangan seperti ini diantisipasi dengan jurus ini, pukulan ini untuk ini, gerakan itu untuk itu, tangkisan seperti ini untuk menangkis tendangan itu, dan sebagainya”.

Apabila anda belajar silat seperti itu, atau mengajar silat semacam itu maka kasihanilah diri anda sendiri, dan merana lah pencak silat untuk selama nya karena sepuluh atau seratus tahun lagi pencak silat akan menjelma menjadi robot dengan perintah elektronik.

Pertanyaannya, kenapa guru-guru silat (tradisional) kita juga menerapakan metode pembelajaran seperti itu? Jawabannya adalah ini semata fenomena mutahkhir saat ini. Di mana perkembangan pencak silat makin marak, semangat menyebarluaskan pencak silat, dan murid-murid jaman sekarang yang “cerdas-cerdas dan kritis”, yang selalu bertanya.

Guru silat yang masih menerapkan metode pembelajaran “kuno” akan tidak laku dan ditunggalkan para murid yang kritis dan cerdas-cerdas tersebut. Dulu, jaman para guru dan orang tua kita belajar silat, ada keyakinan “tabu” untuk bertanya. Mereka hanya menurut apa yang diperintahkan guru nya. Belajar dengan serius dan tekun tanpa banyak bertanya, berusaha “mengerti” tidak Cuma “sekedar bisa”. Sehingga banyak lah kita kenal para tokoh, sesepuh dan guru silat kita yang keahliannya sangat, sangat mumpuni.

Perkembangan saat ini, guru harus mengikuti trend. Murid-murid sekarang kritis dan selalu bertanya, tidak bisa lagi diterapkan metode “kuno” tersebut. Guru harus bisa menjawab setiap pertanyaan dan kasus yang dipersoalkan para murid nya. Kalau tidak maka mereka akan pergi karena “belajar silat di aliran itu dengan guru itu tidak menarik, membosankan, tidak dijelaskan aplikasi dan tidak boleh bertanya macam-macam”.

Jadi sudah menjadi anggapan lumrah saat ini bahwa “belajar silat adalah belajar aplikasi”. Apakah hal ini lama-kelamaan tidak akan mengebiri pencak silat sendiri? Jawabannya tentu saja “YA”.

Silat memang seni bela diri, untuk membela diri dan berkelahi. Itu benar dan memang benar. Tetapi ada hal lain yang kerap dilupakan bahwa pencak silat itu sangat kental dengan unsur-unsur filosofis, kaedah dan adat budaya. Bisa aplikasi dan bisa berkelahi hanyalah salah satu unsur dari hasil pembelajaran, bukan satu-satu nya. Oleh karena itulah kita mengenal istilah “kaedah dalam sailat”, juga pitutur yang mengharuskan kita untuk “mengerti tidak Cuma sekedar bisa”.
Anda yang sudah memahami kaedah, mengerti, tentu otomatis bisa. Anda yang sudah bisa belum tentu mengerti.

Salah satu contoh adalah gerakan suliwa/seliwa. Ini sebenar nya adalah suatu kaedah, bukan semata gerakan yang bersilangan atau berlawanan. Dalam tahap awal pembelajaran –dalam aliran silat sunda dan betawi misal nya- kita berlatih gerakan suliwa adalah untuk “bisa” mengantisipasi gerakan jurus (serangan lurus dengan tangan dan kaki yang sama). Suliwa digunakan untuk menghindar lalu menyerang balik, ini pelajaran dasar. Karena aplikasi gerak/jurus suliwa bisa menghindari serangan pukulan/tendangan. “Menghindar dan berlawanan”, ini lah kaedah yang harus kita mengerti. Filosofi yang terkandung di dalam nya sangat dalam dan luas.

Dalam kehidupan ini gerakan/kaedah suliwa sangat applicable. Bukankah kita diajarkan untuk menghindari perbuatan buruk, menghindari sengketa, menjauhi permasalahan? Dan bukankah alam semesta serta isi nya ini selalu berpasangan dan “berlawanan?”.

Latihlah gerakan suliwa sampai mahir, kuasailah teknik nya, tapi jangan lupa untuk memahami dan mengerti kaedah dan filosofi nya. Bertanyalah tentang isi dan makna bukan semata aplikasi pertarungan, maka para guru akan dengan senang hati memberikan penjelasan dan berbangga hati karena mempunyai murid yang akan mewarisi nilai-nilai luhur pencak silat. Jadi kalau kita masih saja menemukan guru yang mengajar dengan metode “jalani aja dulu, nanti lama-lama juga bisa”, bukan berarti guru tersebut kuno dan pelit aplikasi, hanya saja kita perlu merobah pertanyaan kita.

Dengan memahami dan mengerti sedalam-dalam nya kaedah gerakan suliwa, maka aplikasi yang kita butuhkan akan mengalir dan keluar dengan sendiri nya dalam situasi dan kondisi pertarungan apa pun, karena kita sudah tidak terjebak lagi dengan konsep-konsep baku suatu pertarungan.

Angka “NOL” yang nilai nya kosong lah yang menentukan apakah uang kita nilai nya seribu trilyun atau Cuma satu rupiah saja.

Koleksi Pribadi

BEBERAPA KOLEKSI PRIBADI

Pemerintah dan Sahabat Silat, Catatan Perjalanan

Informasi ini saya dapat sudah sekitar tiga bulan lalu bahwa Menpora dan Gubernur Jawa Barat akan berkunjung ke Cianjur dalam rangka peresmian gedung baru Kwarcab Pramuka Cianjur. Dalam acara ini Wakil Bupati Cianjur yang merupakan seorang pecinta dan praktisi silat akan menyisipkan demonstrasi Maenpo sebagai bagian dari slogan Kabupaten Cianjur : ngaos, mamaos dan maenpo.
Mengingat ini kesempatan yang sangat bagus untuk  promosi pencak silat, alangkah baiknya dalam kesempatan ini Forum dan komunitas Sahabat Silat dapat bertatap muka dan ber-audiensi dengan Menpora dan Gubernur Jabar. Dengan demikian gaung dan gerakan peduli silat akan makin menasional.

Setelah sempat tenggelam beberapa lama, akhir nya datang juga berita bahwa acara ini jadi terselenggara tanggal 17 Maret 2010.
Saya sempat berkunjung ke Cianjur pada malam Jumat tanggal 11 Maret 2010, dan berkesempatan melihat persiapan demonstrasi Maenpo Cikalong (Pabuci) dan bertemu dengan Wakil Bupati Cianjur. Pada kesempatan itu terlihat sekali antusias orang nomor dua di Cianjur ini memperkenalkan pencak silat ke pemerintah pusat. Sayang sekali, informasi yang saya dapat, waktu dan jadwal sang Menteri sudah ditentukan dan sangat singkat. Sangat kecil peluang untuk bertatap muka dan ber-audiensi. Demonstrasi maenpo saja hanya diberikan waktu 15 menit, tidak boleh lebih. Bagaimana waktu yang sangat singkat ini bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan Forum dan Sahabat Silat serta Gerakan Peduli Silat?

Kebetulan siang hari  nya saya sedang iseng berjalan-jalan dan mampir ke satu tempat pembuatan PIN.
Rencana nya PIN Sahabat Silat dan Gerakan Peduli Silat ini akan saya bagikan ke para sahabat yang berkumpul pada hari Sabtu di Padepokan Pencak Silat dalam rangka peliputan kegiatan Forum oleh RCTI. Ide muncul : “bagaimana jika di waktu yang sangat sempit ini disisipkan acara penyematan Pin tersebut ke Menpora, Gubernur Jawa Barat dan Bupati Cianjur?
Ide ini segera saya sampaikan ke Pak Haji Ceng Suryana sebagai Gubesa Pabuci , Wakil Bupati Cianjur dan beberapa teman senior di sahabat silat. Pak Haji sangat setuju, Pak wakil Bupati juga setuju. Alhamdulillah, dari rekan sahabat silat, Uda Aslim dan Bang Syamsul meenyambut baik ide saya ini.
Informasi terakhir, acara diundur satu hari menjadi hari Kamis tanggal 18 Maret 2010.
wah bakalan bolos kerja lagi nih, pikir saya.. Oke lah kalau begitu, panggilan silat rupanya lebih kuat, hehehe…

Bertiga dengan Kang Iwan Setiawan dan Kang Mas Priatna, saya meluncur ke Cianjur hari Rabu sore. Bermalam di sana dan bertemu dengan Uda Aslim, Bang Syamsul dan Mas Adi yang bertugas meliput acara. Dengan demikian, kehadiran Forum dan Sahabat Silat diwakili oleh kami berenam.
Rupanya kehebohan menyambut acara ini tidak hanya terjadi di jajaran Pemkab Cianjur sebagai tuan rumah. Paguron Pabuci sendiri secara intensif telah mempersiapkan diri selama tiga bulan –maklum pertama kali mau demo dihadapan Menteri-, dan persiapan juga oleh Tim Sahabat Silat : Bang Syamsul dan Uda Aslim rela meninjau lokasi pada jam 11 malam untuk memastikan lokasi liputan di pendopo kabupaten sudah matang. Menghabiskan malam di kediaman Pak Haji diisi dengan ngobrol santai dan bercanda ria seperti biasa nya.

Kamis pagi hari, tanggal 18 Maret 2010

Acara ini diadakan di dua lokasi, pagi hari di pendopo kabupaten dengan acara makan pagi bersama dan pemutaran film Ensiklopedi Silat Indonesia (ESI), setelah itu acara puncak di gedung kwarcab pramuka Cianjur yaitu peresmian gedung dan demo serta atraksi-atraksi. Oleh karena itu kami berenam dibagi menjadi dua tim. Tim pertama terdiri dari Kang Iwan, Uda Aslim, Bang Syamsul dan Mas adi yang bertugas menemani Bpk Edy Nalapraya pada saat jamuan makan pagi dan pemutaran filem ESI. Tim kedua saya dan mas Pri menuju lokasi acara. Perlu dicatat bahwa acara ini adalah acaranya PRAMUKA, Silat dan Sahabat Silat hanya “memanfaatkan kesempatan dengan  fasilitas waktu dari Bapak wakil Bupati Cianjur”.

Jam tujuh pagi tim pertama berangkat. Tim kedua satu jam berikut nya menuju gedung kwarcab pramuka Cianjur.  Kemeriahan penyambutan Menpora sudah terasa di jalan-jalan menuju lokasi oleh para pejabat kabupaten dan pelajar pramuka. Tidak ketinggalan sinar matahari yang cukup menyengat.
Demonstrasi maenpo/pencak silat terjadwal pada acara keempat setelah pembukaan, demonstrasi ibing pencak silat oleh para pelajar pramuka, dan sambutan ketua panitia (Wakil Bupati Cianjur), sekitar pukul 10.30 waktu Cianjur. Ide ini, yang sudah saya sampaikan sebelum nya yaitu  penyematan PIN setelah demonstrasi maenpo. Mmasalah nya adalah Menpora dan rombongan datang terlambat (ga perlu heran sih..) dan dalam susunan acara yang saya intip belum ada jadwal  ini. Waktu nya telah disusun sedemikian rupa, time by time.

Sekitar jam 8, Uda Aslim telpon dari pendopo kabupaten bahwa protokol menpora bersedia menyisipkan waktu untuk penyematan PIN Sahabat Silat dan penyerahan Proposal ESI. Kini tugas saya menghubungi panitia dan melobi agar dalam susunan acara setelah demo maenpo akan ada acara tambahan yaitu “penyematan PIN Sahabat Silat dan GPS serta penyerahan proposal ESI”.
Setelah menemui seksi acara di kepanitiaan setempat, saya dapat ijin untuk “mendiktekan” acara tambahan ini. Lengkap nya sebagai berikut :
1.Penyematan PIN Sahabat Silat kepada Menpora, Gubernur Jawa Barat, Bupati Cianjur dan Wakil Bupati oleh Kang Iwan Setiawan
2.Penyerahan Proposal ESI kepada Menpora dan Gubernur Jabar oleh Bang Ochid

Pembawa acara juga saya minta untuk menyampaikan bahwa acara ini dihadiri pula oleh Bpk Edy Nalapraya selaku Presiden Persilat dan Oong Maryono sebagai Mantan juara dunia pencak silat.
Sekitar Jam 9 rombongan Menporan dan Gubernur Jawa Barat tiba di lokasi acara. Setelah acara penyambutan, tibalah waktu nya memperlihat kan kepada Menpora salah satu pilar Kabupaten Cianjur yaitu MAENPO. Didahului dengan atraksi ibing dan aplikasi pencak silat oleh para pelajar pramuka, diselingi oleh sambutan ketua Panitia, pada pukul setengah sebelas tampillah Paguron Maenpo Cikalong Pancerbumi, menunjukkan beberapa jurus dan aplikasi di atas matras yang tersengat panas matahari.

Ada sedikit gangguan teknis, pembawa acara menyampaikan kepada saya bahwa acara penyematan PIN dan penyerahan Proposal tidak bisa dilaksanakan, karena jam 11 tepat Menpora harus meninggalkan lokasi dan waktu nya tidak cukup. Saya berkeras bahwa acara ini harus tetap dilaksanakan, setelah sedikit kebingungan, akhir nya panitia setuju dan memutuskan bahwa acara makan siang bagi Menpora yang ditiadakan, saya legaaa…
Tetapi sayang nya narator demo maenpo ikut terpengaruh mepet nya waktu, persiapan demo maenpo yang intensif selama tiga bulan tidak dapat tampil maksimal karena  dikejar-kejar waktu.  Nara tor selalu minta waktu dipercepat. Positif nya adalah para guru dan teman-teman jadi tidak terlalu lama terjemur di atas matras :D

Tiba lah waktu nya penyematan PIN sahabat silat dan penyerahan proposal ESI, tepat beberapa menit menjelang pukul 11. Dengan serbuan para juru kamera, Menpora kami “perkenalkan” dengan Forum Pecinta dan Pelestari Silat Indonesia dan  Komunitas Sahabat Silat.

Semoga peristiwa ini menjadi awal dari lahir nya kesadaran pemerintah bahwa ada warisan budaya bangsa yang selama ini terabaikan, PENCAK SILAT.

Wabillahi taufik wal hidayah
-ochid-

Pencak silat all over the world

Melihat langit bisa lewat kubangan air, mengukurnya? Jangan….

Dalam sebuah acara yang baru kuhadiri hari ini Pemberian Gelar Pendekar bagi warga Spanyol oleh PERSILAT (14 Pebruari 2010), sempat dipertontonkan video proposal ESI (Enslikopedi Silat Indonesia) garapan para teman dan sahabatku. Berbagai tangggapan bermunculan. Ada menarik dan menggelitik hatiku mengenai tanggapan seseorang yang mengatakan yang ditampilkan itu bukan silat asli, baik Pamacan, Cimande, Cikalong dan Kumangonya. Beliau (yang mengatakan hal tersebut) dengan serta merta menerangkan apa itu Cikalong, apa itu Cimande dan juga Kumango. Sayang aku tak sempat berdiskusi dengannya. Sahabatku dan saudara perguruanku yang turut larut dalam pembicaraan itupun hanya mengiyakan dan mengangguk-angguk. Mungkin karena menjaga sikap santunnya yang selama ini jarang menempel di kepalaku. Namun dalam hatiku cukup membuatku terhenyak, bagaimana mungkin sesuatu yang kami sedang angkat dan cukup berhati-hati dalam mengkaji yang memakan cukup banyak waktu langsung ke nara sumber yang terkait dibilang, ” Itu bukan asli…”

Tak hanya cukup bingung namun aku juga prihatin mendengarkan perkataannya, dalam beberapa penerangannya ternyata penggambaran tentang dari mana Cimande, apa itu Cikalong dan Kumango masih pada tataran sangat dasar yang diketahui banyak orang dan sama sekali tidak menggambarkan utuh bagaimana ciri suatu penggambaran bela diri pencak silat. Ketika berbicara Cimande dari kampung Mande, ternyata beliau tidak tahu bahwa sejak lama beberapa daerah di sana telah ditenggelamkan menjadi waduk. Saat berbicara mengenai Cikalong ternyata beliaupun tidak mengenal siapa penerus aliran ini dari garis penerus Gan Uweh ”Pasar Baru” yang ditampilkan begitu juga tentang pencak silat yang memiliki sikap pasang panjang adalah Cikalong dan Cimande rapat, inipun adalah gambaran umum yang dengan mudah didapat dari menguping atau katanya dengan sumber yang tidak jelas. Khusus Cikalong (maenpo Cikalong), penggambaran sikap yang panjang dan posisi kuda-kuda ringan adalah pola umum bukan merupakan indentitas khusus. Sebagaimana kita ketahui, aliran Cikalong adalah salah satu aliran pencak silat yang memberikan warna pada perkembangan pencak silat Jawa Barat juga tanah air. Apakah ketika kita ini bingung dengan warna asli Cikalong itu sendiri karena kita terbiasa dengan ”warna” yang berkembang??? Bagaimana mungkin menilai sebuah bentuk bela diri asli atau bukan tanpa mempelajari dan mendalami? Dengan latar belakang sama-sama pesilat, menurut saya hal tersebut melampaui kewenangan penilaiannya (dalam istilah anak gaul, belajar juga kagak kok berani monten?). tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau sebagai sesepuh pencak silat, kiranya juga beliau mau kita ajak diskusi dan membaca bahwa banyak lho kekayaan pencak silat kita itu.

Kumango yang kami jadikan bahan dalam garapan video proposal ESI adalah salah satu penerus yang juga diketahui oleh banyak orang dari Nagari Kumango sendiri dan itupun merupakan penerus aliran Syech Kumango ini (Almarhum Guru Gadangnyapun kami kenal dekat). Begitu juga dengan Pamacan, Gerak Gulung Budi Daya yang menampilkan beberapa Raka Wiranya, Cikalong yang menampilkan Guru Besar, Guru dan para murid yang merupakan penerus aliran ini yang telah diketahui oleh pemda Kabupaten Cianjur yang masuk ke dalam daftar pelestari seni budaya Cianjur yang insya Allah akan dimasukan dalam hak paten sebagai HAKI anak bangsa sebagai salah satu kekayaaan budaya bangsa, Si Bunder yang menampilkan generasi mudanya, Golok Suliwa yang langsung menampilkan sang Gurunya, Beksi Tradisional Haji Hasbullah yang merupakan salah satu perguruan yang memegang tradisi dan pakem yang berlaku. Mungkin menjadi hal yang biasa ketika pembicaraan ini adalah ajang tanya jawab.

Sebenarnya hal tersebut tak perlu aku pusingkan jika yang dibahas adalah bukan ranah dan apa yang sedang aku pelajari dan amanahkan menjaganya. Namun ketika berbicara maenpo Cikalong dan para guruku dianggap bukan asli, aku teringat kejadian yang berulang di Bandung tahun 1984 di mana ketika penampilan para murid waktu itu dianggap bukan asli karena tidak gagah dan di katakan sebagai silat perempuan (padahal saat itu maestro Cikalong, Raden Haji O. Soleh / Gan Uweh masih ada) Namun penilaian ini malah tidak membuat Guru Besar generasi IV marah, malah dikatakannya, ” keun bae disebut silat awewe oge…../ biar saja disebut silat perempuan juga” sekaligus menepis keraguan para murid terdahulu, beliau bilang semakin dianggap bukan Cikalong itu menandakan semakin tidak tahunya orang tersebut, maka biarkanlah….
Bukan bermaksud menempatkan menerapkan perkataan Guru Besar Raden Haji O. Soleh pada hal ini. Namun alangkah elok dan baik jika beliau yang mengatakan bahwa apa yang telah kami kerjakan ini bukan asli maka sebagai orang yang jauh lebih muda dan sebagai murid dari aliran Cikalong, adalah pantas jika aku juga meminta beliau ini untuk menerangkan Cikalong ”asli” versinya. Begitu senangnya aku berdiskusi aliran Cikalong yang dapat membukakan mata dan hatiku, tidak menepis kemungkinan akupun meminta data dan bagaimana mengenal Cikalong ”asli” nantinya dari beliau ini. Sekaligus meminta data dengan memulai diskusi yang santun dan elegan, aku mencoba menyampaikan hal ini.

Mungkin antara kenal dengan sok kenal itu dekat, tapi antara tahu dengan sok tahu, ahli dengan sok ahli itu jauh dan sangat jauh…..

Air kubangan memang dapat dijadikan alat melihat langit, namun jangan kita mengukur ketinggian langit dari air di kubangan.

ref : http://www.facebook.com/notes/iwan-setiawan/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/308047761911

(iwan setiawan)

Capita Selecta Pencak Silat

Latar Belakang sejarah

Silat atau pencak silat adalah kata yang popular saat ini, yang merujuk pada aktivitas gerak dalam perkelahian, entah itu pembelaan diri, pertandingan, atau semata gerak badan untuk olah raga.

Frasa PENCAK SILAT adalah istilah baku yang digunakan untuk menyebut sebuah seni bela diri khas Indonesia. Seni bela diri sendiri mengandung dua makna : seni dan pembelaan diri. Seni merujuk pada keindahan tata gerak, pola langkah, serang-bela, bahkan seni lebih khusus diartikan sebagai seni pertunjukan ibing pencak silat dimana keindahan gerak dan langkah dipadu dengan iringan musik gendang pencak. Seni bisa  juga diartikan sebagai teknik; teknik menyerang, teknik menghindar, menangkis, memukul, dan sebagainya. Di sinilah letak perbedaan seorang ahli pencak silat dengan orang awang pada saat berkelahi.

Sedangkan bela diri adalah unsur utama dalam silat, intisari dari keahlian seseorang dalam bersilat adalah dalam pembelaan diri ini. Membela diri dalam silat tentu saja menggunakan teknik-teknik, kaidah dan filososfi dalam silat yang dimiliki seseorang

Sejak kapan silat ada di Indonesia? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini, belum ada orang yang bisa menjawab dengan pasti. Sebagai sebuah aktivitas pembelaan diri, cikal bakal pencak silat dapat dikatakan  setua umur manusia. Bukan kan para manusia purba telah terbiasa melawan keras nya alam, binatang buas dan kelompok manusia lainya dalam mempertahankan kelangsungan hidup nya. Apa pun nama nya setiap bentuk gerakan tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya, dalam bentuk seprimitif apa pun adalah suatu seni bela diri (walau pun untuk menyerang terlebih dahulu).

Merujuk pada hipotesa di atas, adalah logis kalau dikatakan silat/pencak silat (penamaan sekarang) sudah berumur sangat tua dan lahir bersamaan dengan terbentuk nya susunan masyarakat tertua di Indonesia (merujuk pada suku-suku yang tinggal di seluruh kepulauan Nusantara)

Ridwan Saidi seorang budayawan Betawi menyebutkan hipotesa berdasarkan hasil penelitiannya bahwa : Pada tahun 130 telah berdiri kerajaan pertama di Jawa yang namanya Salakanagara. Salakanagara nagara berasal dari bahasa Kawi salaka yang artinya perak.

Secara etimologis kemudian Salakanagara itu dikaitkan Ridwan dengan laporan ahli geografi Yunani bernama Claudius Ptolomeus pada tahun 160 dalam buku Geografia yang menyebut bandar di daerah Iabadiou (Jawa) bernama Argyre yang artinya perak. Hal ini dikaitkan pula dengan laporan dari Cina zaman Dinasti Han yang pada tahun 132yang  mengabarkan tentang kedatangan utusan Raja Ye Tiau bernama Tiao Pien.

Ye Tiau ditafsirkan sebagai Jawa dan Tiau Pien sebagai Dewawarman. Termasuk dalam hal ini yang disebut Slametmulyana sebagai Kerajaan Holotan yang merupakan pendahulu kerajaan Tarumanagara dalam bukunya Dari Holotan sampai Jayakarta adalah Salakanagara.

Sebuah kerajaan sesederhana apa pun bentuk nya, pasti mempunyai alat-alat keamanan untuk melindungi kerajaannya, di sini pasti ada keahlian bela diri yang dimiliki oleh para prajurit dan panglima nya, bahkan dikisahkan Aki Tirem, sang pendahulu kerajaan Salakanagara adalah seorang ahli bela diri.

Dalam naskah itu (naskah wangsakerta-pen) saya berupaya menganalisa secara logika, tentang perlawanan Aki Tirem. Sebagai penghulu Salakanagara melawan kekuatan Perompak yang jumlahnya dua kali lipat
melebihi pasukan Salakanagara. Logikanya jikalau tidak mempunyai kekuatan bela diri tidak akan mungkin pasukan
perompak yang jauh lebih besar jumlahnya dapat ditaklukan. Bukti tentang ditaklukan
dengan kekuatan fisik (bukan dengan diplomasi) dapat dilihat dengan jumlah korban, antara
lain:
(Terjemahan…)
Korban di pihak Perompak berjumlah 37 orang, 22 orang tawanan yang selanjutnya dihukum
gantung.
Secara tertulis tidak disebutkan “apa” nama bela diri dari pasukan Salakanagara
pimpinan Aki Tirem, tapi yang pastinya secara tertulis sudah ada dan menunjukkan
eksistensi bela diri bangsa Melayu di awal abad Masehi.(jali jengki, dalam http://sahabatsilat.com)

Pada perkembangan selanjut nya seiring dengan kemajuan peradaban bangsa-bangsa yang hidup di bumi Nusantara, seni bela diri ini pun mengalami kemajuan pesat, apa lagi setelah berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain seperti bangsa China dan India dan terjadi akulturasi budaya termasuk seni bela diri. Diperkirakan semenjak abad ketujuh silat telah menyebar di kepulauan Nusantara, dengan penyebaran melalui tradisi lisan dari mulut ke mulut, dari guru ke murid.

Walaupun asal muasal silat masih sulit dipastikan, tapi telah disepakati bahwa silat adalah budaya yang lahir dari nenek moyang dan cikal-bakal bangsa Indonesia. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat. Gajah Mada adalah seorang Maha Patih yang sangat melegenda kesaktiannya. Di tanah Pasundan kita mengenal ketangguhan pasukan kerajaan Pajajaran yang gugur bersama sang Raja, Putri Dyah Pitaloka dan para panglima dalam perang Bubat melawan kerajaan Majapahit

Pengertian

Pencak Silat, ada pendapat yang menafsirkan dengan memisahkan arti dari kedua kata namun ada pula yang menganggap kedua kata tersebut sebagai bentuk dari penyatuan kata. Pendapat pertama yang memisahkan artian kata berpendapat bahwa Pencak adalah bentuk permainan (keahlian) untuk mempertahankan diri dengan menangkis, mengelak dan sebagainya. Sementara silat adalah kepandaian berkelahi, seni bela diri yang berasal dari Indonesia dengan ketangkasan membela diri dan menyerang untuk pertandingan atau perkelahian (KBBI, Pusat Bahasa 2008) Namun kesemuanya itu memiliki kesamaan subtansi di dalam hal pengertian. Tokohtokoh pendiri IPSI menyepakati pengertian pencak silat dengan tidak lagi membedakan pengertian antara pencak dan silat karena memiliki pengertian yang sama. Kata pencak silat adalah istilah resmi yang digunakan Indonesia untuk bela diri rumpun Melayu ini, sementara negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam lebih memilih kata silat.(iwan setiawan, anggota FP2STI dan Sahabatsilat)

Unsur-unsur dalam Pencak Silat

  1. Unsur fisik yang terdiri dari gerak berupa pola langkah, sikap badan, pola langkah, jurus, dan teknik aplikasi nya;
  2. Unsur batin yang merupakan filosofi, perilaku, sikap, kaedah, dan spiritual

Salah satu ciri khas yang membedakan pencak silat dengan jenis bela diri lainnya adalah hubungan yang erat dan tak terpisahkan antara unsur lahir dan batin. Di mana pencak silat tidak semata-mata alat untuk membela diri dalam arti fisik, tetapi ada unsur “kebatinan” di dalam nya. Kebatinan bukan dalam pengertian mistik, tetapi bagaimana seorang pesilat bisa menyelaraskan antara keahlian bersilat nya dengan kemampuan menjaga tata perilaku dalam hubungan social dan hubungan dengan Tuhannya. Sebagaimana ujar-ujar yang sangat terkenal “lahir silat mencari kawan, batin silat mencari Tuhan” dan Silat untuk Silaturahim

Satu hal yang sering terlupa dari perhatian kita, masyarakat umum dan pemerintah, bahwa pencak silat adalah merupakan salah satu karya budaya bangsa, dimana dalam pencak silat dapat ditemukan unsur-unsur yang membentuk suatu kebudayaan, yaitu hasil dari olah cipta, rasa dan karsa. Pencak silat adalah juga bagian dari kebudayan kita sebagaimana hal nya dengan seni tari, seni pahat, ukir, lukisan, keris, batik dan lain-lain nya. Sebagai suatu hasil budaya bangsa maka sudah sepantas nya lah pencak silat mendapatkan tempat kedudukan yang sejajar dengan hasil budaya lainnya tersebut. Pemerintah tentu nya diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap hal ini.

Pencak silat tradisional dan modern

Apakah ada pengelompokan dalam hal ini? Secara resmi tidak ada. Kedua istilah tersebut sangat debatable, ada pro dan ada yang kontra tentang hal ini. Selama ini kita mengenal pencak silat hanya sebagai alat bela diri, seni, sport, dan prestasi (dalam wadah IPSI). Istilah silat tradisional menjadi popular setelah FP2STI (Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia) mencanangkan gerakan pelestarian silat tradisional pada tanggal 10 Juni 2006, sebagai bentuk keprihatinan atas kurang nya perhatian pemerintah terhadap silat yang mengakar secara tradisional di masyarakat.

Secara umum silat tradisional dapat digambarkan sebagai silat yang digunakan murni untuk berkelahi, tidak dapat dipertandingkan, memiliki jurus-jurus yang ampuh dan mematikan, berkembang di kalangan masyrakat tradisional, di kampung, di desa, tidak memiliki perguruan yang well organized, system pengajaran yang tidak modern/masih klasik atau tidak terstruktur, dan sejenis nya. Di bawah ini adalah beberapa pendapat tentang apa itu silat tradisional (diambil dari disksui di http://sahabatsilat.com) :

Istilah (pencak) silat tradisional adalah penamaan untuk bentuk perguruan yang berdasarkan pola / metode pengajaran, hirarki kepemimpinan, persyaratan murid juga manajemen yang tidak diatur secara tertulis.
Ciri-ciri tersebut antara lain:
-   pengajaran atau metode berlatih tidak mengenal penguraian jurus, dan lebih bersifat monologis dan tuntun, biasanya tidak massal
-   kepemimpinan tertinggi adalah pada guru, guru besar dan pewaris perguruan atau aliran dan tidak mengenal pengorganisasian formal.
-   persyaratan menjadi murid masih memegang teguh pada tatanan tradisi simbolis dan lebih memilih pada pola perekrutan kekerabatan atau pada keluarga.
-   tidak mengenal pelebelan tingkatan dengan penandaan sabuk dan tidak menggunakan atribut. Tingkatan semuanya berdasarkan pada putusan guru, guru besar, atau pewaris perguruan / aliran
-   keuangan baik pemasukan dan pengeluaran untuk kegiatan adalah karena kesukarelaan bukan berdasar pada patokan / iuran
-   tidak menggunakan pengregistrasian dan pendaftaran
-   menetapkan persyaratan yang berdasarkan corak dan pola istiadat setempat
-   relatif lebih keci dan terkesan tertutup
-   memiliki hubungan emosional yang tinggi dan ketaatan yang luar biasa pada tiap anggotanya.
-   Biasanya tak banyak memiliki ”koleksi” jurus dasar(one).

Kembali saya tegaskan bahwa tidak ada kesepakatan tentang pengelompokan dua jenis pencak silat tersebut di atas, hanya saja kecenderungan pemerintah (IPSI) yang lebih mentikberatkan pada aspek pertandingan telah banyak mengebiri perkembangan aliran-aliran pencak silat yang masih hidup secara tradisional di daerah-daerah di Indonesia. Lebih memprihatinkan lagi, di ajang internasional prestasi atlet-atlet pencak silat terus merosot tajam. Hal ini tentu membuat masyarakat memandang sebelah mata terhadap pencak silat. Perhatikan saja di medaia masa, baik cetak maupun elektronik, berapa banyak kah berita dan tayangan tentang pencak silat dibandingkan sepak bola, tennis, bulu tangkis, bahkan golf dan volley pantai lebih sering diberitakan dari pada pencak silat.

Lebih jauh lagi, sebagai alat bela diri, pencak silat pamor nya sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan bela diri impor seperti karate, aikido, ju jitsu, kempo, kempo, judo, dll nya. Kenapa begitu? Tentu saja karena masyarakat menilai pencak silat ‘tidak bermutu’ dan jauh dari gengsi. Memprihatinkan bukan?

Dengan mengkampanyekan silat tradisional, diharapkan masyarakat dapat terbuka matanya bahwa pencak silat jauh dari persepsi buruk yang selama ini melekat. Bahwa sebagai seni, pencak silat sangat indah untuk ditonton, sebagai alat bela diri, pencak silat sangat ampuh dan mematikan (jika mau tentu nya), sebagai suatu budaya, pencak silat wajib kita pelihara, jaga dan lestarikan.

Aliran dan Perguruan

Aliran silat merujuk pada pengertian dari mana sumber pencak silat tersebut berasal. Aliran silat bersifat original, klasik, dan merupakan sumber yang mempengaruhi. Aliran silat bisa dibagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Aliran silat primer adalah sumber pertama yang mempengaruhi aliran silat lain. Sebagai contoh aliran silat cikalong (maenpo cikalong) banyak mempengaruhi beberapa aliran silat di Jawa Barat. Begitu juga dengan Cimande yang sangat banyak mempengaruhi aliran silat lainnya. Aliran silat sekunder adalah aliran silat yang terbentuk sebagai hasil dari perpaduan satu atau lebih aliran silat primer, yang kemudian menjelma menjadi satu bentuk aliran silat baru.

Aliran silat juga bisa dibagi menjadi dua :

  1. Merujuk kepada daerah asal : seperti aliran silat Jawa Barat, Betawi, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, dan sebagai nya
  2. Merujuk ke jenis pencak silat sendiri, seperti aliran Cimande, Cikalong, Silek Tuo, Kumango, Harimau, Seliwa, Cingkrig, Beksi, Sendeng, Sera, Gerak Gulung, dan lain-lain.

Jadi aliran silat suatu daerah bisa terdiri dari berbagai aliran jenis silat nya.

Perguruan adalah wadah organisasi yang mengajarkan suatu jenis pencak silat dari satu atau beberapa aliran. Kita mengenal banyak perguruan silat di tanah air dari yang sangat terkenal sampai yang tidak dikenal masyarakat umum. Contoh perguruan yang sangat terkenal adalah KELUARGA SILAT NASIONAL PERISAI DIRI, PPS BETAKO MERPATI PUTIH, PGB BANGAU PUTIH, TAJIMALELA, KPS NUSANTARA, PERSAUDARAAN SETIA HATI, MUSTIKA KWITANG, TAPAK SUCI PUTRA MUHAMMADIYAH, DLL. Perguruan-perguruan silat tersebut telah sangat terkenal dengan manajemen organisasi yang bagus, bahkan mempunyai cabang-abang di luar negeri, dan telah banyak mengukir prestasi melalui atlet-atlet nya.

Dengan adanya pembagian ini diharapkan tidak terjadi lagi kerancuan dan salah pengertian antara aliran silat dengan perguruan silat.

Filosofi dalam Pencak Silat

Salah satu hal yang membuat pencak silat bernilai tinggi adalah filosofi yang terkandung di dalamnya, yang membuat pencak silat tidak hanya alat untuk berkelahi dan membela diri, tetapi jauh dari itu pencak silat dapat membuat manusia menjadi insan yang berjiwa satria, berkepribadian luhur, bermartabat dan menghargai nilai-nilai kemanusian. “Silat untuk silaturahim” adalah slogan yang bernilai filsosofis. Silat menjadikan kita manusia yang dapat menjaga nilai-nila sosial, menjalin tali silaturahim, bertanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Terlalu klise dan hiperbolis kelihatannya. Tetapi apa bila kita mengahayati dan mengamalkannya, hal itu bukan lah suatu slogan kosong semata.

“Lahir silat mencari teman, batin silat mencari Tuhan”. Ini adalah petuah yang sangat terkenal di kalangan masyarakat khusus nya masyarakat pencak silat Minang.

Di kalangan masyarakat sunda, khusus nya maenpo cianjur/cikalong sangat terkenal petuah dari maestro maenpo cikalong yaitu Gan Obing Ibrahim bahwa “seseorang belum dapat dikatakan mahir maenpo apa bila masih mengalahkan lawannya dengan menyakiti”.

Seorang pesilat yang sudah ahli tentu akan menghayati nilai-nilai tersebut. Tidak semena-mena, tidak menyakiti, bahkan cenderung rendah hati dan tidak menunjukkan keahliannya di depan umum secara arogan. Seorang pendekar yang mumpuni akan mempertanggungjawabkan setiap tindakan nya dan mengamalkan ilmu nya di jalan kebenaran. Saya pribadi berpendapat berdasarkan pengalaman, hal-hal tersebut di atas bukanlah omong kosong belaka.

Kaedah dalam pencak silat

Kaedah adalah aturan, pedoman, tata nilai dan tuntunan yang terdapat dalam setiap gerakan pencak silat. Tanpa kaedah, maka jurus-jurus dan aplikasi yang dilakukan tidak akan bermakna dan hanya berupa gerakan kosong belaka. Dalam pertarungan sesungguh nya, seorang pesilat yang memahami kaedah dalam setiap gerakannya akan dengan mudah mengatasi lawannya yang tidak memahami kaedah.

Kaedah lah yang membuat setiap gerakan silat menjadi bermakna. Jadi intisari dalam silat adalah pemahaman akan akan setiap kaedah dalam gerak nya.

Kaedah terdapat dalam setiap gerak maupun posisi/sikap.

  1. Sikap berdiri : Posisi/sikap berdiri tegak lurus mempunyai kaedah yang berbeda dengan sikap yang agak membungkuk. Dengan demikian seorang pesilat yang memahami kaedah akan dengan mudah menentukan apakah dia harus berdiri tegak atau kah sedikit membungkuk atau membungkuk penuh dalam menghadapi lawan nya.
  2. Posisi kaki : ada berbagai macam posisi kaki dalam bersiap/sikap pasang, ada yang sejajar, kaki kanan di depan, kaki kiri di depan, tegak, setengah tegak atau pun berdiri rendah. Semua sikap itu adalah baik dan benar sepanjang kita mengetahui makna nya, kaedah nya, tujuannya. Dalam terminology silat sunda/maenpo posisi ini di sebut tangtungan kembar, jurus (kaki kanan di depan), dan suliwa (kaki kiri di depan). Bagaimana penerapannya tergantung dari situasi dan kondisi serta pemahaman akan kaedah nya. Secara umum, posisi kaki sejajar dimaksud kan supaya lebih fleksibel dalam bergerak, di mana kita akan bebas untuk bergerak maju atau mundur tanpa lawan mengetahui nya. Posisi kaki kanan di depan adalah sikap jurus yang umum nya digunakan untuk melakukan serangan, sedangkan posisi suliwa atau kaki kiri di depan digunakan untuk menyerang atau menghindar. Posisi tubuh sehubungan dengan kaki ini adalah tegak lurus, setengah tegak, dan berdiri rendah. Masing-masing mempunyai kegunanaan, kelebihan dan kekurangan tergantung sejauh mana kita menguasai teknik nya, kaedah nya dan fungsi nya.
  3. Sikap tangan : Sama hal nya dengan kaki, posisi tangan pun mempunyai variasi bermacam-macam, ada yang tergantung lurus ke bawah, sejajar di depan dada, merapat di ketiak, satu tangan di depan, terbuka lebar seperti tampak mempersilakan lawan untuk masuk menyerang, dan sebagai nya. Kombinasi dari posisi kaki dan sikap tangan akan melahirkan berbagai variasi bentuk sikap pasang dan kuda-kuda. Setiap aliran silat mempunyai kaedah sendiri tentang hal ini. Ada pula kaedah sikap tangan dengan jari terkepal, terbuka, setengah terkepal, sebagian jari terbuka lurus dan sebagian tertekuk. Masing-masing mempunyai kaedah dan tujuan yang berbeda.
  4. Pola langkah : ada langkah lurus ke depan, menyamping, mundur lurus dan mundur menyamping. Ada langkah dengan melangkah biasa, ada yang setengah melompat, dan ada langkah seser (kaki tidak diangkat), ada pola langkah kombinasi.
  5. Menyerang, menghindar, dan menangkis. Penguasaan kaedah yang matang akan menghasilkan penyerangan yang tepat sasaran, hindaran yang menyelamatkan dan tangkisan yang tepat. Contoh nya, apabila posisi lawan sejajar tegak lurus dengan kuda-kuda “jurus”, maka serangan lurus dengan jurus tidak akan menghasilkan serangan yang berhasil, kecuali si lawan terlena dengan ketampanan/kecantikan kita.
  6. Masih banyak kaedah yang terdapat dalam pencak silat. Uraian satu per satu dan detil mungkin membutuhkan pembahasan dalam bab tersendiri.

Inti nya adalah menguasai pencak silat tidak hanya menguasai jurus dan teknik serta aplikasi nya tetapi yang lebih penting adalah menguasai dan mengerti kaedah nya, dan tentu saja filosofi nya.

Belajar Pencak Silat

Yang terutama dan sangat penting adalah niat. Niat yang ikhlas untuk belajar, bisa dan mengerti serta niat untuk menjaga dan melestarikannya. Selanjut nya dibutuhkan ketekunan dan kesabaran. Apabila sekedar belajar secara instan, jangan diharapkan akan menguasai pencak silat secara utuh. Bertanggung jawab dan beretika, ini sangat penting. Pencak silat yang kita kuasai harus kita pertanggung jawabkan penggunaannya untuk kebaikan. Ber etika yang dimaksud di sini adalah belajar silat tidak sekedar untuk icip-icip, coba-coba dan sekedar petualangan (hal ini banyak terjadi berdasarkan pengalaman saya). Atau belajar suatu aliran sekedar untuk mendapat kan satu dua jurus pilihan dan mencampuradukan dengan aliran lain/aliran sendiri, kemudian mengklaim sebagai jurus ciptaan sendiri atau hasil cipta leluhur nya. Menggabungkan atau menciptakan jurus baru tentu saja tidak dilarang bahkan bagus untuk perkembangan pencak silat itu sendiri, yang tidak dibenarkan adalah menghilangkan asal-usul dari sumber jurus tersebut.

Image negative tentang pencak silat

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini di masyarakat sudah melekat kesan negative tentang pencak silat seperti :

  1. Silat itu kampungan
  2. Silat itu penuh dengan mistik dan klenik yang tidak masuk akal
  3. Silat itu untuk kalangan preman dan tukang pukul
  4. Belajar silat hanya membuat anak-anak kita belajar kekerasan
  5. Silat tidak ampuh untuk berkelahi hanya bagus untuk ditonton tarian/ibingannya, dll.

Pendapat saya untuk hal-hal di atas adalah, bagi para pecinta dan pelestari silat, marilah kita introspeksi dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa hal itu tidak benar. Bagi kalangan yang merasa pencak silat “tidak ada bagus-bagus nya sama sekali” dan memandang nya secara negative, sadarilah kalau bukan kita yang mencintai dan melestarikannya lantas siapa lagi? Fakta bahwa orang-orang luar (orang asing) berbondong-bondong belajar silat dan membuka perguruan pencak silat di Negara nya membuktikan bahwa pencak silat adalah sebuah “barang bagus, layak jual dan layak dikoleksi”. Selanjut nya, silakan berkenalan dan bergaul dengan para sahabat silat yang tergabung dalam komunitas sahabat silat, ikutan diskusi untuk menambah wawasan dan kecintaan terhadap pencak silat. Terakhir, sering-sering lah berkunjung ke website ini (www.rasyid-aj.com) untuk lebih mengenal pencak silat.

Akhirul kalam, komentar dan saran atas berb

agai kekurangan dalam tulisan ini, sangat diterima dengan tangan hati terbuka.

Wabillahi taufik wal hidayah

Prinsip-prinsip Pembelajaran Maenpo Cikalong

Seorang murid atau seseorang yang ingin belajar/mempelajari maenpo cikalong, perlu memperhatikan beberapa prinsip dasar di luar jurus, teknik, aplikasi dan kaedah rasa. Beberapa prinsip dasar itu adalah :

  1. Ikhlas, yang pertama perlu ditaati adalah niatkan untuk belajar secara ikhlas. Dalam artian tidak ada maksud-maksud tersembunyi seperti hanya sekedar mencoba, ingin mendapatkan kaedah-kaedah tertentu nya saja, atau jurus/teknik tertentu untuk kepentingan pribadi. Niatkan lah untuk belajar secara ikhlas, yaitu memang ingin menekuni, menguasai, melestarikan dan mengembangkan untuk kemaslahatan diri sendiri dan masyarakat.
  2. Cinta, yang kedua adalah cintailah maenpo ini maka dia akan mencintai kita. Dengan niat yang ikhlas, maka akan timbul cinta terhadap nya dan insyaallah kita akan dimudahkan dalam menuntut ilmu ini.
  3. Sabar, maenpo cikalong adalah silat yang mengutamakan rasa. Yang dikejar untuk dikuasai adalah “rasa”. Kadang seperti membosankan, sekilas sepertinya dari waktu ke waktu yang dipelajari cuma itu-itu saja. Padahal kita tidak menyadari bahwa sudah ada peningkatan dari pelajaran yang kita dapatkan. Oleh karena itu bersabarlah.
  4. Kemauan yang kuat, insyaallah dengan kemauan yang kuat para guru dan pelatih pun akan dengan senang hati menurunkan ilmu nya.
  5. Banyak bertanya, bukan dalam artian cerewet tapi asal bunyi. Bertanya lah apa yang tidak kita mengerti, tapi sebelum bertanya coba dan usaha lebih dulu. Setelah terasa mentok barulah bertanya. Insyaallah selanjut nya akan terus mengerti.
  6. Kejarlah untuk “mengerti” tidak hanya sekedar bisa. Dengan pengertian, maa semua pelajaran akan diterima dengan lebih mudah.
  7. Takdir, di luar semua itu, kita harus kembalikan semua nya kepada Yang Maha Kuasa. Takdir NYA lah yang menentukan seberapa jauh ilmu yang akan kita dapatkan dan kuasai dari Maenpo Cikalong ini.

Demikian beberapa prinsip yang saya sarikan dari petuah dan petunjuk sang guru.
Wabillahi Taufik wal Hidayah

Penerus Amanat Maenpo Cikalong “Pasar Baru”

MYSQL query returned error : MySQL server has gone away

Mungkin nama ini kurang begitu dikenal bagi para praktisi bela diri pencak silat di luar Cianjur. Dalam beberapa silsilah aliran Cikalong / maenpo Cikalong sendiri jarang yang tertuliskan namanya, namun siapa nyana bahwa garis silsilah aliran pencak silat Cikalong dari kalangan dalam atau yang lebih dikenal dengan maenpo Cikalong “Pasar Baru” yang dipopulerkan oleh generasi ketiga yakni dari Raden Idrus Wiradireja dan Raden Muhyidin Wiradibrata serta Raden Haji O. Soleh yang merupakan generasi keempat yang bertempat tinggal di daerah Pasar Baru – Cianjur ternyata memiliki penerus amanat tongkat estafet keilmuan aliran ini.

Haji Ceng Suryana HR, terlahir 5 Mei 1946 di Garut yang merupakan wiraswasta dan penduduk Desa Bojong -Karang Tengah ini adalah salah satu murid dari sekian banyak murid yang pernah menimba ilmu pada maestro maenpo Cikalong Raden Haji O.Soleh (gan Uweh). Belajar maenpo Cikalong sejak belasan tahun sekitar tahun 1960-an Haji Ceng Suryana HR yang berasal dari keluarga pecinta pencak silat tertaut hatinya pada aliran ini dan menjadi pencaharian juga pemberhentian terakhir dalam mempelajari bela diri yang sebelumnya memang telah banyak dipelajari. Dalam perjalanan mempelajari aliran Cikalong, semula diselimuti kabut keraguan akan keefektifan atau keampuhan ilmu yang dipelajarinya. Namun setelah setengah tahun diuji sang ayah yang juga seorang pendekar silat dan tak disangka dengan mudah sang ayah di jatuhkannya dua kali, dan merasa bisa dijatuhkan sang anak, ayahnyapun meminta padanya untuk mengundang Raden Haji O. Soleh untuk bersambut tangan yang lebih serius karena dengan anaknya, sang ayah merasa sungkan dan takut melukai. Namun kenyataan pahit dialami kembali ayahnya, dengan sang murid dijatuhkan sebanyak dua kali dan dengan sang guru, Raden Haji O.Soleh maka jauh lebih mudah dijatuhkan. Dengan sentuhan ujung jari telunjuk Raden Haji O.Soleh sang ayahpun dijatuhdudukan dengan mudah. Sejak saat itu keluarga H. Ceng Suryana HR menjadi murid dari Raden Haji O.Soleh.

Beberapa bulan sebelum meninggalnya Raden Haji O.Soleh kepadanyalah Raden Haji O.Soleh mempercayakan untuk menitipkan dan mengamanatkan untuk diterus dan dikembangkannya aliran Cikalong “Pasar Baru” ini. Amanat yang pernah disampaikan padanya antara lain,” Kutitipkan (Cikalong) padamu, khawatir suatu saat anak cucuku hendak belajar maenpo Cikalong …” (titip ka Aceng, bisi jaganing geto aya anak incu nu hayang diajar maenpo Cikalong..) secara simbolis pula Raden Haji O. Soleh pernah berkata pada H. Ceng Suryana HR sebagai penerusnya,” Yang sekarang belum didapat akan kau dapatkan pada saatnya nanti…” ( nu ayeuna can kasampak bakal kapanggih `engke’..) sambil memakaikan kopiah / peci-nya pada Haji Ceng Suryana HR. Sejak meninggalnya Raden Haji O.Soleh sebagai guru besar Cikalong generasi IV seiring itu pula nama penerus aliran ini tenggelam.

Bertahun-tahun lamanya nama Haji Ceng Suryana HR tak muncul dipermukaan dan tak dikenal masyarakat pencak silat luar Cianjur apalagi masuk dalam silsilah aliran Cikalong, seakan tenggelam dalam hiruk pikuk dan gempitanyanya persilatan. Namun dalam beberapa tahun terakhir dengan segala kerendahan hati dan permintaan para murid yang belajar padanya, maka namanya mulai dikenalkan para murid pada masyarakat pencak silat dan media. Ini sebagai bentuk jawaban dan tanggung jawab atas keprihatinan semakin sedikitnya sumber keilmuan bela diri Indonesia yang “hilang” ditelan jaman. Hal ini juga sebagai upaya menjaga tradisi bangsa yang adiluhung agar tidak hilang atau diklaim bangsa lain.

Selain itu penerus aliran Cikalong “Pasar Baru” antara lain : Raden I. Arifin yang masih keluarga dari Raden Haji O.Soleh dan Iyus Sarosi sebagai murid dari Raden Muhyidin Wiradibrata.

(iwan-one- setiawan)

ref : http://pabuci.blogspot.com/2009/07/penerus-amanat-maenpo-cikalong-pasar.html

Tokoh-tokoh Silat

MYSQL query returned error : MySQL server has gone away
MYSQL query returned error : MySQL server has gone away

Kong Sakam (tengah), belajar cingkrig di Rawa Belong, satu guru dan satu angkatan dengan Kong Sinan, menyebarkan cingkrig di Depok dan sekitar nya, aliran cingkrig nya dinamakan Cingkrig RawaBelong

Gan Uweh, Generasi ketiga maenpo cikalong, penerus maenpo cikalong pasar baru, murid dari Gan Idrus dan Gan Muhyidin

KESAN NEGATIF TERHADAP PENCAK SILAT

MYSQL query returned error : MySQL server has gone away

Saya kerap mendapatkan pertanyaan menyangkut Pencak Silat, yang menurut saya seolah telah menjadi anggapan umum dan menjelma menjadi image yang melekat pada Pencak Silat. Tulisan berikut ini mencoba menjelaskan dan berusaha menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut.

1. Pencak Silat = mistik, gaib dan tidak ilmiah?

Pertanyaan pertama yang sering dilontarkan adalah : mengapa pencak silat kental sekali nuansa mistiknya? Apakah pencak silat, atau belajar silat harus mengikuti program mistikisasi juga?

Jawaban saya adalah tegas : TIDAK! Silat adalah silat; mistik/ilmu gaib adalah soal lain lagi. Kalau kita berbicara tentang silat, maka yang kita bicarakan adalah teknik-teknik jurus, langkah, menyerang dan bertahan. Semua itu sangat, sangat jelas dan kasat mata. Silat adalah permainan fisik, satu-satu nya unsur kebatinan di dalam silat adalah melatih hati nurani untuk selalu rendah hati, tidak sombong, dan mendekatkan diri pada sang pencipta serta tentu saja mempererat silaturahmi. Unsur-unsur yang terkandung dalam pencak silat adalah gerakan fisik (di sini kita berbicara tentang jurus/olah gerak). Mulai pertama kali kita belajar silat, yang kita latih adalah gerak badan secara menyeluruh. Melatih langkah dan jurus agar lincah dan refleks, melatih kuda-kuda agar kokoh, melatih aplikasi untuk bertahan dan menyerang. Bahkan melatih pernafasan untuk membangkitkan tenaga (dasar) dan/atau menguatkan otot-otot tubuh adalah aktivitas fisik semata.

Lalu kenapa cap mistik melekat di silat?

Apakah karena adanya pesilat yang kebal? Debus?

Pukulan yang bisa menghanguskan musuh, dll?

Semua hal tersebut jelas-jelas bukan pencak silat. Kemampuan itu dilatih tersendiri bagi yang berminta menguasainya. Bukankah hal-hal yang beraroma mistik/metafisika juga terdapat di negara lain..?

Sekali lagi, pencak silat sama sekali bukan mistik. Kemampuan seorang pesilat yang bisa mengalahkan musuh (dalam pertarungan bebas) dengat sangat cepat dan mudah, sehingga seolah-olah seperti hipnotis/ilmu gaib, disebabkan pesilat tersebut telah mencapai taraf yang sangat tinggi dalam ilmu nya bukan karena mistik nya. Semua itu bisa dicapai asalkan kita berlatih dengan ikhlas dan tekun.

2. Pencak Silat identik dengan kekerasan?

Saya sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaan ini, dan dari mana asal muasal nya. Terakhir kali pertanyaan ini diajukan pada waktu saya diwawancarai oleh salah satu penyiar radio swasta di Jakarta.

Jawaban saya singkat dan sederhana saja : adakah satu jenis bela diri di dunia ini yang tidak menggunakan kekerasan? Walaupun gerakan jurus Tai Chi begitu lemah gemulai, siapa yang menyangkal efek dari pukulannya yang bisa mematikan. Begitu juga dengan Aikido yang menitikberatkan pada unsur pengalihan tenaga lawan dan menjatuhkan lawan, tetap saja kental nuansa kekerasannya dan bisa mematikan. Hal yang sama berlaku untuk semua jenis bela diri, tak terkecuali pencak silat. Jadi sepanjang masih disebut ilmu bela diri, unsur kekerasan nya adalah pasti ada.

3. Pencak Silat kampungan?

Siapapun orang nya yang menekuni pencak silat tradisional pasti mahfum bahwa pencak silat bukan lahir di perkotaan modern dan baru-baru saja di abad millenium ini. Pencak silat telah berusia berabad-abad dan lahir dari olah cipta, karsa dan rasa yang sangat kental dengan nilai-nilai luhur budaya tradisional nenek moyang kita. Nilai-nilai, kaedah, dan filosofi silat tidak bisa begitu saja di modern kan mengikuti perkembangan jaman. Kesan kampungan ini tidak bisa dielakan bila sudut pandang kita terpaku pada kisah masa lalu, dongeng-dongeng dan tayangan film atau sinetron. Bahwa orang yang berlatih pencak silat terkesan kumuh, seragam hitam-hitam yang menyeramkan dan kadang bertelanjang dada sudah tidak relevan lagi untuk saat ini. Perguruan-perguruan silat yang lahir sejak jaman kemerdekaan hingga saat ini telah memakai seragam yang beraneka warna, desain yang menarik dan berlatih di tempat terbuka pada pagi dan siang/sore hari.

Kalau masih terkesan kampungan juga, itu hanya cap yang dipaksakan untuk merendahkan nilai pencak silat. Sebagai bagian dari seni dan budaya tradisional, Pencak silat hidup subur di kampung-kampung, atau desa-desa. Masyarakat berlatih silat, mendalami nilai-nilai luhur pencak silat, kaedah dan filosofi silat apakah itu kampungan??

Beberapa teman yang saya kenal melalui Komunitas Sahabat Silat yang bernaung dalam Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia adalah para penggila silat yang mempunyai misi mengembangkan dan melestarikan silat tradisional Indonesia. Menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam nya. Mereka terdiri dari berbagai macam profesi, ada seniman, profesional, usahawan, wartawan, Pegawai Negeri, dan lain-lain. Mereka berpakaian rapi bahkan kadang berlatih silat dengan kostum warna-warni, hem dan pantalon, celana training dan kaos/T-shirt. Jauh sekali dari kesan norak dan kampungan.

Sekian,

Wassalam


*ref:http://princeofbatavia.multiply.com/journal/item/30/KESAN_NEGATIF_PENCAK_SILAT?replies_read=3